TUGAS MPKMB #Cerita Inspirasi 2

NAMA            :           Defika Annisa Cita

NRP                :           I14100145

LASKAR        :           16

Cerita Inspirasi 2 (berkenaan dengan diri sendiri)

Sejak saya berada di bangku kelas 1 Sekolah Dasar, saya sudah memantapkan cita-cita saya untuk menjadi seorang dokter. Keinginan saya untuk meraih profesi ini didasarkan oleh pengalaman adik saya sewaktu dia masih kecil, sekitar umur 1 tahun-5 tahun.

Ketika adik saya dilahirkan, tanpa sengaja air ketuban yang seharusnya membantu proses kelahiran, malah tertelan oleh adik saya. Semenjak itu adik saya sering mengalami sesak nafas. Satu per satu dokter pun didatangi oleh kami, tidak jarang adik saya keluar masuk Rumah Sakit untuk diopname. Silih berganti dokter yang menangani adik saya, bermacam diagnosis pun diberikan, mulai dari asma, bronkhitis, sampai gangguan pernafasan biasa. Suatu hari, setelah berganti cukup banyak dokter, adik saya dibawa ke seorang dokter anak, kebetulan dia dokter ternama, jadi kami fikir, pastilah dia bisa menangani adik saya, akan tetapi bukannya sembuh, adik saya mengalami kesalahan pengobatan, tubuhnya membiru sesaat setelah diobati dan nafasnya bertambah sesak.

Kesalahan pengobatan yang dilakukan oleh dokter tersebutlah yang memacu saya untuk menjadi seorang dokter kelak. Menginjak bangku SMP dan SMA cita-cita saya untuk menjadi seorang dokter semakin mantap, persiapan akademik pun mulai saya lakukan. Awal semester 5 kelas 12, saya mulai menyiapkan diri saya untuk mengikuti tes Perguruan Tinggi Negri (PTN) dengan program studi pendidikan dokter. Tes demi tes pun saya lalui, mulai dari Penelurusan Minat dan Bakat sampai beragam Ujian Mandiri yang diadakan setelah Ujian Nasional pun tidak ketinggalan saya ikuti. Tapi Allah berkehendak lain, tidak ada satupun PTN dengan program studi pendidikan dokter yang berhasil saya dapatkan. Alih-alih mendapatkan program studi pendidikan dokter, saya malah mendapatkan beasiswa dari Bakrie University dengan program studi Ilmu Komunikasi. Untuk beberapa saat saya sempat terpukul, saya malah mendapatkan program studi yang melenceng jauh dari tujuan saya semula, orang tua saya membesarkan hati saya, mereka berkata bahwa tidak semua orang harus menjadi dokter, karena setiap pekerjaan mempunyai tanggung jawab yang sama besarnya.

Setelah membulatkan keputusan saya untuk menerima beasiswa tersebut, tiba-tiba orang tua saya menyarankan saya untuk ikut SNMPTN, pilihan pertama tetap pendidikan dokter, dan pilihan kedua ilmu gizi, dengan pertimbangan ilmu gizi tidaklah terlalu jauh dari cita-cita saya semula. Setelah SNMPTN saya tidak terlalu berharap, saya pun mulai menyiapkan diri untuk mencari tempat tinggal di Jakarta, menyiapkan segala sesuatunya untuk berkuliah di Bakrie. Satu bulan setelah SNMPTN, tibalah pengumuman SNMPTN, saya sengaja mengulur waktu untuk membukanya, karena jujur saja, harapan saya sudah hampir tidak ada waktu itu.

Akan tetapi, apa yang kita anggap baik, belum tentu yang terbaik menurut Allah. Ketika saya mengecek pengumuman SNMPTN online, ternyata saya diterima di pilihan kedua, perasaan saya campur aduk waktu itu, ibu saya langsung memeluk dan menangis terharu, menyampaikan rasa bahagianya karena saya lulus SNMPTN. Allah mempunyai rencana lain dengan meluluskan saya SNMPTN. Allah menunjukan kepada saya, bahwa tidak ada hal yang sia-sia. Jika kita mau berusaha, maka kita akan menuai hasilnya dikemudian hari. Apa yang saya pelajari adalah, rencana kita mungkin telah tersusun dengan rapi dan baik, akan tetapi susunan rencana Allah jauh lebih rapi dan jauh lebih baik untuk kita.

Comments

TUGAS MPKMB #Cerita Inspirasi 1

NAMA            :           Defika Annisa Cita

NRP                :           I14100145

LASKAR        :           16

Cerita Inspirasi 1 (berkenaan dengan orang lain)

Setiap orang pastilah mempunyai seorang sosok yang dikaguminya, sosok yang menjadi panutan, sosok yang menjadi motivator, dan sosok yang bisa menjadi sumber inspirasi baginya.

Beragam sekali tokoh yang bisa dijadikan inspirasi, mulai dari pahlawan bangsa, publik figur, atau bahkan keluarga kita sendiri yang menjadi inspirasi bagi kita. Terlepas dari semua tokoh yang saya sebutkan diatas, saya mengambil sebuah contoh realita sosial sebagai objek cerita inspirasi saya. Sebuah contoh realita sosial, yang seringkali kondisi dan situasi yang mereka hadapi tidak kita sadari telah menjadi sebuah inspirasi bagi kita.

Debu kendaraan bermotor dan bisingnya lalu lintas tidak mereka hiraukan. Padatnya jalanan tak mereka gubris, tak peduli seterik apapun matahari bersinar pada hari itu, atau seberapa deras hujan yang turun, mereka tetap disana, di jalanan yang penuh sesak kendaraan bermotor dan pejalan kaki yang berlalu lalang. Usia mereka relatif, tapi kebanyakan dari mereka berusia 6 tahun-15 tahun. Sebagian dari mereka mendendangkan lagu-lagu yang sedang hits di Indonesia dan beberapa dari mereka berjualan koran atau menjajakan makanan dan minuman. Merekalah anak jalanan, anak-anak usia pelajar yang seharusnya mengenyam bangku pendidikan, malah berada di jalanan untuk bekerja.

Mereka bekerja di jalanan, motifnya beragam, mulai dari bekerja atas permintaan orang tuanya, atau memang karena kemauan mereka sendiri. Ketika ditanya apa alasan mereka lebih memilih bekerja di jalan yang penuh dengan risiko dibandingkan duduk di bangku sekolahan, rata-rata dari mereka menjawab bahwa dengan tidak bersekolah, setidaknya mereka bisa menghemat uang yang seharusnya untuk pembayaran uang sekolah, selain itu dengan tidak bersekolah, mereka mengalokasikan waktunya untuk bekerja di jalanan, dengan bekerja di jalanan mereka bisa mendapatkan uang yang dapat membantu pemenuhan kebutuhan sehari-hari keluarga mereka. Walaupun sebenarnya harapan mereka untuk mengenyam bangku pendidikan sangatlah besar, terbukti dari sorot mata mereka yang berbinar saat ditawari sekolah gratis oleh beberapa relawan, akan tetapi alasan efektifitas waktu bekerja mengurungkan niat mereka.

Jika dibandingkan dengan kondisi mereka yang serba terbatas, rasanya saya yang datang dari keluarga yang berkecukupan merasa malu karena terkadang saya masih bermalas-malasan untuk belajar. Padahal orang tua saya telah bekerja untuk memfasilitasi saya, rasanya saya kurang bersyukur jika saya masih malas-malasan belajar. Bermula dari kondisi dan situasi merekalah sumber inspirasi saya untuk tidak menyia-nyiakan apa yang saya punya pada saat ini. Bahwa Allah telah memberikan nikmatNya untuk saya syukuri, bukan untuk saya abaikan. Bahwa Allah telah menjadikan keberadaan anak jalanan untuk membuka lebar mata saya, untuk mengulurkan tangan saya, dan untuk menyadarkan saya bahwa masih banyak orang yang kurang beruntung, yang tidak bisa mengenyam bangku pendidikan, sedangkan mereka memiliki semangat belajar yang berkobar, di lain sisi, banyak orang mampu yang bisa bersekolah di mana saja mereka mau, akan tetapi mereka malah menyia-nyiakan kesempatan itu.

Comments